LIKE or NO-LIKE
Tiba-tiba
saja, saya mendapat WA dari beberapa orang (mereka ada yang sahabat
saya, teman biasa, atau bahkan ada yang cuma kenal karena sama-sama ada
di satu grup WA).
Dalam chatingan WA itu mereka meminta saya supaya “nge-Like” mereka pada sebuah instagram “tertentu” untuk sebuah “perebutan” status “tertentu” dalam sebuah lomba/pemilihan/kontestasi/atau apa lagilah namanya.
(Sengaja tidak saya sebutkan nama atau istilah dari kepentingannya, untuk menghindari terjerat ‘aturan main’ dunia maya, yang kadang bisa membuat celaka).
Bayangkan, beberapa orang, sekaligus minta saya melakukan “hal yang sama”. Nge-Like, untuk sebuah pencapaian/ pemenangan dalam perebutan status ‘tertentu’ itu.
Gila!
Saya jadi tak habis pikir lagi. Zaman apa ini namanya?
Apakah benar ini adalah era “zaman now”, dimana logika hidup sudah ‘kacau balau’ dan tak lagi bisa dipahami oleh logika akal sehat dan logika sebab-akibat yang ‘alamiah’.
Untuk meraih sebuah ‘status’ keterpilihan dari sebuah persaingan, perebutan, pemilihan, atau kontestasi, orang sudah tak lagi mengandalkan “kualitas” yang sebenarnya. Namun, hal itu dibangun dengan sebuah ‘penggalangan’ dukungan, yang diperoleh dengan cara ‘meminta-minta’ dukungan, bahkan kadang terasa sebagai sebuah upaya ‘pengemisan’, demi untuk meraih harapan ‘keterpilihan’.
Ini memang bukan hal yang baru, tapi jika hal ini terus-terusan digalakkan, maka ‘kemajuan zaman’ macam apa yang sedang kita ciptakan?
Sungguh, saya merasa, bahwa demi untuk sebuah “popularitas” dan ‘kemenangan’ dalam kontestasi, maka “manusia-manusia yang sudah melegitimasi dirinya sebagai generasi zaman now”, telah benar-benar menghambakan dirinya ‘dalam rekayasa teknologi’.
Manusia, telah rela untuk ‘meminta-minta’ di-Like sebagai pengakuan akan sosok yang dianggap ‘berprestasi’, dan ‘menyediakan dirinya’ sebagai komoditas yang dihitung dengan ‘jumlah akses’ yang sebetulnya cuma sebagai hitungan ‘kuantitas’ dari sebuah ‘akumulasi’ bisnis on-line.
Maka, saya minta maaf kepada semua pihak yang telah menghubungi saya untuk melakukan “hal gila” itu, tapi saya tak melakukannya.
Sebab, saya masih ingin menjadi ‘manusia yang waras’ secara logika akal sehat, dan tak ingin ikut nimbrung ‘main akal-akalan’ seperti itu.
Sungguh, saya sama sekali tak punya hak untuk melarang semua perilaku itu dilakukan oleh siapa saja, tapi saya juga cuma meminta, agar Anda semua, yang setuju akan ‘upaya’ akal-akalan yang penuh ‘kepura-puraan’ itu, juga tidak “melarang” saya untuk tidak bersepakat dengan semua itu.
Semua orang berhak melakukan apa saja, termasuk saya juga berhak untuk tidak “menuruti” perminta nge-Like “kalian” yang telah mengirim permintaan kepada saya.
Jangan karena saya tak menuruti perminta kalian semua (yang tentunya telah mengirimkan permintaan kepada saya) lantas, hubungan kita menjadi ‘terganggu” karena itu.
Selebihnya, ya terserah kalianlah.
Semoga, pertemanan, persahabatan, atau per….an yang lainnya, tak ‘terdestruksi’ oleh pernyataan saya ini.
Sungguh, maafkan saya!
(Tentang Teater & Kehidupan – Pasal 13)
MOEHAMMAD SINWAN
Dalam chatingan WA itu mereka meminta saya supaya “nge-Like” mereka pada sebuah instagram “tertentu” untuk sebuah “perebutan” status “tertentu” dalam sebuah lomba/pemilihan/kontestasi/atau apa lagilah namanya.
(Sengaja tidak saya sebutkan nama atau istilah dari kepentingannya, untuk menghindari terjerat ‘aturan main’ dunia maya, yang kadang bisa membuat celaka).
Bayangkan, beberapa orang, sekaligus minta saya melakukan “hal yang sama”. Nge-Like, untuk sebuah pencapaian/ pemenangan dalam perebutan status ‘tertentu’ itu.
Gila!
Saya jadi tak habis pikir lagi. Zaman apa ini namanya?
Apakah benar ini adalah era “zaman now”, dimana logika hidup sudah ‘kacau balau’ dan tak lagi bisa dipahami oleh logika akal sehat dan logika sebab-akibat yang ‘alamiah’.
Untuk meraih sebuah ‘status’ keterpilihan dari sebuah persaingan, perebutan, pemilihan, atau kontestasi, orang sudah tak lagi mengandalkan “kualitas” yang sebenarnya. Namun, hal itu dibangun dengan sebuah ‘penggalangan’ dukungan, yang diperoleh dengan cara ‘meminta-minta’ dukungan, bahkan kadang terasa sebagai sebuah upaya ‘pengemisan’, demi untuk meraih harapan ‘keterpilihan’.
Ini memang bukan hal yang baru, tapi jika hal ini terus-terusan digalakkan, maka ‘kemajuan zaman’ macam apa yang sedang kita ciptakan?
Sungguh, saya merasa, bahwa demi untuk sebuah “popularitas” dan ‘kemenangan’ dalam kontestasi, maka “manusia-manusia yang sudah melegitimasi dirinya sebagai generasi zaman now”, telah benar-benar menghambakan dirinya ‘dalam rekayasa teknologi’.
Manusia, telah rela untuk ‘meminta-minta’ di-Like sebagai pengakuan akan sosok yang dianggap ‘berprestasi’, dan ‘menyediakan dirinya’ sebagai komoditas yang dihitung dengan ‘jumlah akses’ yang sebetulnya cuma sebagai hitungan ‘kuantitas’ dari sebuah ‘akumulasi’ bisnis on-line.
Maka, saya minta maaf kepada semua pihak yang telah menghubungi saya untuk melakukan “hal gila” itu, tapi saya tak melakukannya.
Sebab, saya masih ingin menjadi ‘manusia yang waras’ secara logika akal sehat, dan tak ingin ikut nimbrung ‘main akal-akalan’ seperti itu.
Sungguh, saya sama sekali tak punya hak untuk melarang semua perilaku itu dilakukan oleh siapa saja, tapi saya juga cuma meminta, agar Anda semua, yang setuju akan ‘upaya’ akal-akalan yang penuh ‘kepura-puraan’ itu, juga tidak “melarang” saya untuk tidak bersepakat dengan semua itu.
Semua orang berhak melakukan apa saja, termasuk saya juga berhak untuk tidak “menuruti” perminta nge-Like “kalian” yang telah mengirim permintaan kepada saya.
Jangan karena saya tak menuruti perminta kalian semua (yang tentunya telah mengirimkan permintaan kepada saya) lantas, hubungan kita menjadi ‘terganggu” karena itu.
Selebihnya, ya terserah kalianlah.
Semoga, pertemanan, persahabatan, atau per….an yang lainnya, tak ‘terdestruksi’ oleh pernyataan saya ini.
Sungguh, maafkan saya!
(Tentang Teater & Kehidupan – Pasal 13)
MOEHAMMAD SINWAN
TEATER sebagai SENI PERTUNJUKAN versus TEATER sebagai INDUSTRI KREATIF
Ketika
negeri ini tiba-tiba merasa memiliki ‘kesadaran’ baru akan “arus” industri
kreatif, maka seperti sedang memacu kuda untuk berlari kencang mengejar
‘perasaan ketertinggalan’ , gerakan pemberdayaan industri kreatif pun menjadi
‘mengarus deras’.
Sedikit-sedikit
bicara soal indsutri kreatif.
Sedikit-sedikit
membuat segala upaya sebagai bagian dari industri kreatif.
Sehingga,
seakan-akan semua yang ada dan tumbuh dalam kehidupan ini adalah menjadi ranah
industri kreatif.
Industri
kreatif menjadi slogan dan spirit gerakan, dalam rangka sebuah upaya untuk
pemberdayaan hidup atas nama ‘mensejahterakan bangsa’ dan mengindustrikan
segala potensi bangsa.
Sayangnya,
semangat industri kreatif menjadi begitu kebablasan, sehingga hal-hal yang
sebetulnya tidak ‘pas’; tidak ‘matching’ atau tidak pada bingkainya,
dipaksakan dalam koridor ‘industri kreatif’.
Tak semua
yang ada dalam hidup ini bisa dikalkulasi secara ‘industri’. Seperti contoh ‘teater’
misalnya.
Tak semua
aktivitas teater merupakan aktivitas industri.
Tak semua
kelompok teater adalah komunitas-komunitas industri.
Dan tak
semua kehidupan berteater adalah kehidupan industri.
Namun,
mengapa syahwat “industrialisasi” telah memandang seakan-akan semua lini kerja
kreatifitas merupakan asset dan komoditas industri.
Teater
memang salah satu bidang seni yang ‘bisa jadi’ merupakan pekerjaan yang bisa
mendatangkan uang.
Tapi,
mengkalkulasi, menyikapi, bahkan memprospek teater sebagai bagian dari industri
kreatif adalah langkah dan sikap yang terlalu “mematerialisasi” kesenian.
Tak semua
urusan dalam hidup itu bisa dibawa ke ranah ‘materialisme’.
Meski dalam
kehidupan ini tak ada yang bisa terbebas dari membutuhkan uang, namun ‘nuansa
keberuangan’ tak boleh meluluh-lantakkan esensi seni yang pada hakikat bukan
‘material’, namun lebih pada estetika atau keindahan.
Tak semua
bisa dibeli dengan uang. Dan tak semua kebahagian atau keindahan itu selalu
berkaitan erat dengan uang.
Maka,
menyikapi fenomena ‘seni teater’ dengan cara pandang orang dagang,
mengkalkulasi potensi kelompok teater sebagai ‘naluri industri’, sungguh itu
merupakan cara pandang dan perilaku yang ‘serampangan’, ngawur, dan tanda
kurangnya nilai ‘kebijakan’.
Semua
kelompok teater memang pasti punya cita-cita menjadi professional.
Semua orang
teater pasti juga memiliki harapan bisa hidup layak dari keberteaterannya.
Pementasan-pementasan
teater pastilah diharapkan bisa menghasilkan uang.
Dan
berproses teater itu sendiri sesungguh juga tak bebas dari membutuhkan biaya
produksi yang berupa “uang”.
Namun,
sekali lagi, menyikapi sebuah ‘pementasan’ teater sebagai asset atau
komoditas perilaku industri, sungguh itu
telah mendangkalkan hal yang bernilai ‘non-materi’ menjadi ‘material’
sekali.
Tapi, jika
kita mampu dengan tepat menjaga proporsi, dan mampu menyikapi dengan benar
bagaimana teater mesti harus dikelola, dan pentas teater harus ‘disentuh’
dengan manajemen bisnis yang “profitable”, di situlah kita akan bisa berharap
bahwa seni teater kita akan menjadi tumbuh dan berkembang secara professional
dan proporsional.
Berteater
memang butuh uang, namun jangan sampai dengan uang kita mengukur ‘kualitas’
keberteateran kita.
Sebaliknya,
biarlah ‘kualitas’ keberteateran (karya teater) kita, yang akan menentukan
(menyebabkan) uang mendatangi kita.
Teater
adalah ‘seni pertunjukan’ yang memberikan nilai-nilai indah dalam kehidupan
kita.
Bukan
sebaliknya, teater adalah bagian dari syahwat ‘industrialisasi’ kreativitas
kita, yang hanya akan menjadikan kualitas berteater kita menjadi dangkal karena
“uang oriented” yang menjadi ‘akidah’ keberteateran kita.
Boleh
bersepakat, atau tak bersepakat sama sekali…
Semua adalah
pilihan!
(Tentang
Teater & Kehidupan – Pasal 12)
MOEHAMMAD SINWAN
Teater adalah salah satu jalan untuk “menjadi berguna”
Banyak di antara kita yang pada akhrinya kehilangan kesungguhan,
kehilangan semangat, kehilangan spirit, dan pada akhirnya kehilangan minat
untuk berteater.
Banyak pula di antara kita, yang sampai saat ini masih ‘bertahan’
untuk berteater, tetapi mulai kehilangan arah, kehilangan komitmen, kehilangan
kebermaknaan, dan kehilangan daya juang, karena mulai kehilangan “esensi” dalam
memandang dan menjalani “apa itu teater”.
Teater itu bergantung bagaimana kita memandang dan menyikapinya. Ia
akan menjadi penting jika kita memandang dan memaknainya sebagai hal ‘penting’.
Dan ia akan menjadi tak penting, jika kita menganggap memang tak penting dalam
kehidupan kita.
Namun, menurut hemat saya, sebagai orang-orang yang telah terlanjur
‘menyemplungkan’ diri dalam “dunia unik dan eksentrik” yang bernama
teater ini, semestinya kita tidak salah dalam menyikapi dan menjalani kehidupan
berteater kita sendiri.
Teater adalah salah satu jalan bagi kita untuk “menjadi berguna”.
Siapa yang berbuat untuk hal-hal yang ‘berguna’, maka sesungguhnya
dia sedang membangun “kebergunaan kehidupannya”.
(Tentang
Teater & Kehidupan – Pasal 11)
MOEHAMMAD SINWAN
Teater adalah tempat untuk “menciptakan kebahagiaan bersama” (1)
Teater bukan tempat untuk mencari ‘kesenangan’, tapi teater adalah tempat untuk ‘menciptakan kebahagiaan bersama’.
Maka, teater itu harus membahagiakan.
Dan kebahagiaan itu harus diciptakan.
Sebab kebahagiaan itu bukan sesuatu yang bisa diraih dari sekedar pencarian.
Namun ia hadir sebagai sebab dari sebuah kerja keras atau perjuangan.
Dan kebahagian dalam teater itu harus tercipta dalam ‘kebersamaan’, artinya:
Bahwa kebahagiaan dalam teater itu harus bisa dirasakan secara bersama-sama.
Jika dalam peristiwa sebuah pementasan: kebahagiaan para pelaku teater akan didapat jika para penonton merasa ‘bahagia’, karena terpuaskan dari pementasan yang telah ditontonnya.
Jika dalam proses latihan: maka kebahagian pelatih akan dirasakannya, jika para peserta merasa bahagia dan puas karena latihannya menarik, berkualitas, dan penuh kebermaknaan.
Singkat kata, kebahagiaan itu harus diciptakan, bukan dicari.
Kebahagiaan bersama itu akan tercipta, jika semua pihak berhasil terbahagiakan.
Dan teater itu adalah tempat menciptakan kebahagian, dan bukan tempat orang-orang pencari kesenangan.
Sebab para pencari kesenangan itu adalah orang-orang yang memiliki pandangan:
bahwa ‘kesenangan’ itu harus dicari
sebab kesenangan itu letaknya di luar diri mereka
Dan para pencari kesenangan itu adalah orang yang tak memiliki konsistensi, sebab:
Mereka hanya akan ‘datang’ jika kesenangan bisa dirasakan.
Dan mereka akan ‘pergi’ jika rasa senang, tak bisa mereka dapatkan.
Jika, “Teater bukan tempat untuk mencari kesenangan, namun teater adalah tempat untuk menciptakan kebahagiaan bersama”: apakah kita masih akan berteater hanya untuk ‘bersenang-senang’ belaka?■
(Tentang Teater & Kehidupan – Pasal 10)
MOEHAMMAD SINWAN
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Malang Strudel Open Casting Pemain Sitkom Malang Melintang 2
-
Undangan Forum Dialektika Teater Malang
-
32 Tahun Teater Ideot: Forum Dialektika Teater Malang
-
TEATER adalah SENI PERTUNJUKAN
-
Empat Setengah Windu Teater IDEōT
-
Teater Ideot Menerima Anggota Baru
-
Latihan Bersama Lekboss di SMK Negeri 6 Malang
-
Teater adalah tempat untuk “menciptakan kebahagiaan bersama” (1)
-
Teater itu bukan ‘agama’ atau pun ‘Ideologi’!
-
Behind The Scene Film Pendek Berjudul Ironi Keadilan
Media sosial
Labels
Live Traffic
Teater Ideot. Diberdayakan oleh Blogger.



